Tugas 5 Komponen-komponen Keterampilan Manajemen Kelas
Pengertian Komponen Keterampilan
Manajemen Kelas
Menurut (Winataputra, 2004) keterampilan
mengelola kelas adalah keterampilan menciptakan dan memelihara kondisi belajar
yang optimal, serta keterampilan guru untuk mengembalikan kondisi belajar yang terganggu
ke arah kondisi belajar yang optimal.
Menurut (Wardani, 2005) keterampilan
mengelola kelas adalah keterampilan dalam menciptakan dan mempertahankan
kondisi yang optimal guna terjadinya proses pembelajaran yang selalu serasi dan
efektif.
Berdasarkan pengertian diatas, dapat
disimpulkan bahwa keterampilan mengelola kelas merupakan keterampilan yang
digunakan oleh seorang guru dalam proses pembelajaran guna untuk
mengkondisikan belajar siswa dengan harapan supaya terjadi suatu kondisi kelas
yang kondusif, memaksimalkan sarana dan prasarana, menjaga keterlibatan siswa,
menciptakan dan mempertahankan kondisi belajar yang optimal dan rasa nyaman
dalam proses belajar mengajar. Maka dalam melaksanakan keterampilan mengelola
kelas, perlu memperhatikan komponen keterampilan yang berhubungan dengan
penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal. Hal ini berkaitan
dengan kemampuan seorang guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan
pelajaran.
Komponen Keterampilan Mengelola Kelas
Menurut
( Wardani, 2005) komponen keterampilan mengelola kelas meliputi:
1. Keterampilan
yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang
optimal.
a. Memperlihatkan
sikap yang tanggap dengan melihat secara jeli dan seksama, mendekatkan diri,
memberikan sebuah pernyataan, atau memberi reaksi terhadap gangguan kelas.
b. Membagi
perhatian secara visual dan verbal.
c. Memusatkan
perhatian kelompok dengan cara menyiapkan siswa dan menuntut tanggungjawab
siswa.
d. Memberi
petunjuk-petunjuk yang jelas.
e. Menegur
secara bijaksana, yaitu secara jelas dan tegas, bukan berupa peringatan atau
ocehan, serta membuat aturan.
f. Memberikan
penguatan seperlunya.
2. Keterampilan
yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal.
a. Modifikasi
tingkah laku. Dalam strategi ini, hal pokok yang harus dikuasai seorang
guru adalah mengajarkan tingkah laku baru yang diinginkan dengan cara
memberikan contoh, bimbingan dan meningkatkan munculnya tingkah laku siswa yang
baik dengan memberikan penguatan.
b. Pengelolaan/
proses kelompok. Dalam strategi ini kelompok dimanfaatkan dalam memecahkan
masalah-masalah pengelolaan kelas yang muncul, terutama melalui diskusi.
c. Menemukan
dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah. Dalam strategi ini
perlu ditekankan bahwa setiap tingkahlaku yang keliru merupakan gejala dari
suatu permasalahan.
PRINSIP PENGGUNAAN KETERAMPILAN
MENGELOLA KELAS
Menurut (Wardani, 2005) dalam menerapkan
keterampilan mengelola kelas perlu diingat 6 prinsip, yaitu:
a. Kehangatan
dan keantusiasan dalm mengajar, yang dapat menciptakan iklim kelas yang
menyenangkan.
b. Menggunakan
kata-kata atau tindakan yang dapat menantang siswa untuk berfikir.
c. Menggunakan
berbagai variasi yang dapat menghilangkan kebosanan.
d. Keluwesan
guru dalam pelaksanaan tugas.
e. Penekanan
pada hal-hal yang bersifat positif.
f. Penanaman
disiplin diri sendiri.
Sedangkan prinsip-prinsip pengelolaan
kelas yang dikemukakan oleh (Usman, 2013) adalah sebagai berikut:
a. Kehangatan
dan keantusiasan
b. Tantangan
c. Bervariasi
d. Keluwesan
e. Penekanan
pada hal-hal yang positif
f. Penanaman
disiplin diri
KETERAMPILAN MENGELOLA KELAS YANG
BAIK
Menurut (Sartika, 2014) kemampuan dan
keterampilan mengelola kelas dalam proses belajar mengajar yang baik sebagai
berikut:
a. Menciptakan
situasi yang memungkinkan anak untuk belajar, sehingga merupakan titik awal
keberhasilan pengajaran.
b. Siswa
belajar dalam suasana yang wajar, tanpa tekanan dan dalam kondisi yang
merangsang untuk belajar.
Jadi, dalam proses pembelajaran, seorang
guru harus mampu menciptakan suatu kondisi yang memungkinkan sisiwa dapat melakukan
pembelajaran, menumbuhkan sikap yang ramah, memiliki kesiapan demi berjalannya
suatu pembelajaran dan seorang siswa mampu merasakan kenyamanan dalam keadaan
ataupun suasana yang sewajarnya, tidak ada tekanan dari guru dan mampu
terangsang untuk belajar dengan baik.
1.
Keterampilan
yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang
optimal (bersifat prevetif).
Keterampilan ini berhubungan dengan
kompetensi guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta aktivitas-aktivitas
yang berkaitan dengan keterampilan sebagai berikut:
a. Sikap
tanggap
Seorang guru memperlihatkan sikap
positif terhadap setiap perilaku yang muncul pada siswa dan memberikan
tanggapan-tanggapanatas perilaku tersebut dengan maksud tidak menyudutkan
kondisi siswa, perasaan tertekan dan memunculkan perilaku susulan yang kurang
baik. Komponen ini ditunjukan oleh tingkah laku guru bahwa ia hadir berasama
mereka. Guru tahu kegiatan mereka, tahu ada perhatian atau tidak ada perhatian,
tahu yang mereka kerjakan. Seolah-olah mata guru ada di belakang kepala,
sehingga guru dapat menegur anak didik walaupun guru sedang menulis di
papan tulis. Sikap ini dapat dilakukan dengan cara:
i.
Memandang secara seksama
Memandang secara seksama dapat
mengundang dan melibatkan anak didik kontak pandang dalam pendekatan guru untuk
bercakap-cakap, bekerja sama dan menunjukan rasa persahabatan.
ii.
Gerak mendekati
Gerak guru dalam posisi mendekati
kelompok kecil atau individu menandakan kesiagaan, minat dan perhatian guru yang
diberikan terhadap tugas serta aktivitas anak didik. Gerak mendekati hendaklah
dilakukan secara wajar, bukan untuk menakut-nakuti, mengancam atau memberi
kritikan dan hukuman.
iii.
Memberi pernyataan
Pernyataan guru terhadap sesuatu yang
dikemukakan oleh anak didik sangat diperlukan, baik berupa tanggapan, komentar,
ataupun yang lainnya. Akan tetapi haruslah dihindari hal-hal yang menunjukan
dominasi guru, misalnya dengan komentar atau pernyataan yang mengandung ancaman
seperti: “ saya tunggu sampai kalian diam!”. “saya atau kalian yang keluar?”
atau “ siapa yang tidak senang dengan pelajaran saya, silakan keluar!”.
iv.
Memberi reaksi terhadap gangguan dan
ketakacuhan
Kelas tidak selamanya tenang. Pasti ada
gangguan. Hal ini perlu guru sadari dan jangan dibiarkan. Teguran guru
merupakan tanda bahwa guru ada bersama anak didik. Teguran haruslah diberikan
pada saat yang tepat dan sasaran yang tepat pula, sehingga dapat mencegah
meluasnya penyimpangan tingkah laku.
b. Membagi
perhatian
Kelas diisi oleh sejumlah orang (siswa)
yang memiliki keterbatasan-keterbatasan yang berbeda-beda yang membutuhkan
bantuan dan pertolongan dari guru. perhatian guru tidak hanya terfokus
pada satu orang atau satu kelompok tertentu yang dapat menimbulkan kecemburuan,
tapi perhatian harus terbagi dengan merata kepada setiap anak yang ada di dalam
kelas juga harus mampu membagi perhatiannya kepada beberapa kegiatan yang
berlangsung dalam waktu yang sama agar pengelolaan kelas menjadi efektif. Membagi
perhatian dapat dilakukan dengan cara:
i.
Visual
Guru dapat mengubah pandangannya dalam
memperhatikan kegiatan pertama sedemikian rupa sehingga ia dapat melirik
kegiatan kedua, tanpa kehilangan perhatian pada kegiatan pertama. Kontak
pandang ini bisa dilakukan terhadap kelompok anak didik atau anak didik secara
individual.
ii.
Verbal
Guru dapat memberi komentar, penjelasan,
pertanyaan dan sebagainya terhadap aktivitas anak didik pertama sementara ia
memimpin dan terlibat supervisi pada aktivitas anak didik yang lain.
c. Pemusataan
perhatian kelompok
Munculnya kelompok informal di kelas
atau pengelompokan karena disengaja oleh guru dalam kepentingan pembelajaran
membutuhkan kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan perilakunya, terutama
ketika kelompok perhatiannya harus terpusat pada tugas yang harus diselesaikan.
Maka guru harus bisa mengambil inisiatif dan mempertahankan perhatian anak
didik dan memberitahukan (dapat dengan tanda-tanda) bahwa ia bekerja sama
dengan kelompok atau subkelompok yang terdiri dari tiga sampai empat orang.
Untuk itu ada beberapa hal yang dapat guru lakukan, yaitu:
i.
Memberi tanda
Dalam memulai proses belajar mengajar
guru memusatkan pada perhatian kelompok terhadap suatu tugas dengan memberi
beberapa tanda, misalnya menciptakan atau membuat situasi tenang sebelum
memperkenalkan objek, pertanyaan atau topik dengan memilih anak didik secara
random untuk meresponnya.
ii.
Pertanggungan jawab
Guru meminta pertanggung jawaban anak
didik atas kegiatan dan keterlibatannya dalam suatu kegiatan. Setiap anak didik
sebagai anggota kelompok harus bertanggung jawab terhadapkegiatan sendiri,
maupun kegiatan kelompoknya. Misalny, dengan meminta kepada anak didik untuk
memperagakan, melaporkan hasil dan memberikan tanggapan.
iii.
Pengarahan dan petunjuk yang jelas
Guru harus sering kali memberi
pengarahan dan petunjuk yang jelas dan singkat dalam memberikan pelajaran
kepada anak didik, sehingga tidak terjadi kebingungan pada diri anak didik.
Pengarahan dan petunjuk dapat dilakukan pada seluruh anggota kelas, kepada
kelompok kecil, ataupun kepada individu dengan bahasa dan tujuan yang jelas.
iv.
Penghentian
Tidak semua gangguan tingkah laku dapat
dicegah atau berhasil dihindari. Yang diperlukan disini adalah guru dapat
menanggulangi terhadap anak didik yang nyata-nyata melanggar dan mengganggu
untuk aktiv dalam kegiatan di kelas. Bila anak didik menyela kegiatan anak
didik lain dalam kelompoknya, guru secara verbal mengomeli atau menghentikan
gangguan anak didik itu.
Cara lain untuk menghentikan gangguan,
adalah guru dan anak didik membuat persetujuan mengenai prosedur dan aturan
yang merupakan bagian dari pelaksanaan rutin proses belajar mengajar, sehingga
menghentikan gangguan berubah menjadi hanya memperingatkan. Cara mengomeli
kurang dibenarkan dalam pendidikan, sebab tidak mendidik.
v.
Penguatan
Untuk menanggulangi anak didik yang
mengganggu atau tidak melakukan tugas, dapat dilakukan dengan pemberian
penguatan yang dipilih sesuai dengan masalahnya. Penggunaan penguatan untuk
mengubah tingkah laku merupakan strategi remedial untuk mengatasi anak didik
yang terus mengganggu atau yang tidak melakukan tugas.
vi.
Kelancaran (smoothnees)
Kelancaran atau kemajuan anak didikdalam
belajar sebagai indikator bahwa anak didik dapat memusatkan perhatiannya pada
pelajaran yang diberikan di kelas. Hal ini perlu guru dukung dan jangan
diganggu dengan hal-hal yang bisa membuyarkan konsentrasi anak didik. Ada
sejumlah kesalahan yang harus guru hindari, yaitu: campur tangan yang
berlebihan (teacher Instruction), kelenyapan (Fade away), penyimpangan
(Digression), dan ketidaktepatan berhenti dan memulai kegiatan.
vii.
Kecepatan (Pacing)
Kecepatan disini diartikan sebagai
tingkat kemajuan yang dicapai anak didik dalam suatu pelajaran. Yang perlu
dihindari oleh guru adalah kesalahan menahan penyajian bahan pelajaran yang
sedang berjalan, atau kemajuan tugas. Ada dua kesalahan kecepatan yang harus
dihindari bila kecepatan yang tepat mau dipertahankan, yaitu: Bertele-tele
(overdwelling) dan mengulangi penjelasan yang tidak perlu.
d. Memberikan
petunjuk-petunjuk yang jelas
Untuk mengarahkan kelompok kedalam pusat
perhatian seperti dijelaskan diatas, juga memudahkan anak menjalankan
tugas-tugas yang dibebankan kepadanya maka tugas guru adalah memaparkan setiap
pelaksanaan tugas-tugas tersebut sebagai petunjuk pelaksanaan yang harus
dilaksanakan anak secara bertahap dan jelas.
e. Menegur
Permasalahan bisa terjadi dalam
hubungannya antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Permasalahan dalam
hubungan tersebut bisa terjadi dalam konteks pembelajaran, sehingga guru
sebagai pemegang kendali kelas harus mampu memberikan teguran yang sesuai
dengan tugas dan perkembangan siswa. Sifat dari teguran bukan dari hal yang
memberikan efek penyerta yang menimbulkan ketakutan pada siswa tapi
bagaimana siswa bisa tahu dengan kesalahan yang dilakukannya .
f. Memberi
penguatan
Penguatan adalah upaya yang diarahkan
agar prestasi yang dicapai dan perilaku-perilaku yang baik dan dipertahankan
oleh siswa atau bahkan mungkin ditingkatkan atau dapat ditularkan kesiswa
lainnya. Penguatan yang dimaksudkan dapat berupa reward yang bersifat
nonmaterial juga yang bersifat material tapi tidak berlebihan .
2.
Keterampilan
yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal.
Keterampilan ini berkaitan dengan
tanggapan guru terhadap anak didik yang berkelanjutan dengan maksud agar guru
dapat mengadakan kegiatan remedial untuk mengembalikan kondisi belajara yang
optimal. Apabila terdapat anak didik yang menimbulkan gangguan yang berulang
–ulang walaupun guru telah menggunakan tingkah laku dan tanggapan yang sesuai,
guru dapat meminta bantuan kepala sekolah, konselor sekolah, atau orang tua
anak didik untuk membantu mengatasinya.
Bukanlah kesalahan profesional guru
apabila ia tidak dapat menangani setiap masalah anak didik dalam kelas. Namun
pada tingkat tertentu guru dapat menggunakan seperangkat strategi untuk
tindakan perbaikan terhadap tingkah laku anak didik yang terus menerus
menimbulkan gangguan dan yang tidak mau terlibat dalam tugas kelas. Strategi
itu adalah:
a. Memodifikasi
tingkah laku
Modifikasi tingkah laku adalah menyesuaikan
bentuk-bentuk tingkah laku kedalam tuntutan kegiatan pembelajaran sehingga
tidak muncul prototyfe pada diri anak tentang penilaian yang kurang baik. Guru
menganalisis tingkah laku anak didik yang mengalami masalah atau kesulitan dan
berusaha memodifikasi tingkah laku tersebut dengan mengaplikasikan pemberian
penguatan secara sistematis.
b. Pengelolaan
kelompok
Kelompok kecil ataupun kelompok belajar
di kelas adalah merupakan bagian pencapaian tujuan pembelajaran dan strategi
yang diterapkan oleh guru. Kelompok biasa muncul secara informal seperti teman
bermain, teman seperjalanan , gender dan lain-lain. Untuk kelancaran
pembelajaran dan pencapaian tujuan pembelajaran maka kelompok yang ada dikelas
itu harus dikelola dengan baik oleh guru. Guru dapat menggunakan pendekatan
pemecahan masalah kelompok dengan cara:
i.
Memperlancar tugas-tugas: Mengusahakan
terjadinya kerja sama yang baik dalam pelaksanaan tugas.
ii.
Memelihara kegiatan-kegiatan kelompok:
Memelihara dan memulihkan semangat anak didik dan menangani konflik yang
timbul.
c. Menemukan
dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.
Permasalahan memiliki sifat perennial
(akan selalu ada) dan nurturan effect, oleh karna itu permasalahan akan muncul
didalam kelas kaitanya dengan interaksi dan akan diisi oleh dampak pengiring
yang besar bila tidak biasa di selesaikan. Guru dapat dapat melakukan
seperangkat cara untuk mengendalikan tingkah laku keliru yang muncul, dan ia
mengetahui sebab-sebab dasar yang mengakibatkan ketidak patuhan tingkah laku
tersebut serta berusaha untuk menemukan pemecahannya. Guru harus datang
mendeteksi permasalahan yang mungkin muncul dan dengan secepatnya mengambil
langkah penyelesain sehinggaada solusi untuk masalah tersebut.
DAFTAR RUJUKAN
Sartika,
Dewi.(2014). Peran Guru dalam Pengelolaan Kelas. Jambi: Universitas
Jambi.
Wardani,
I.G.A.K. (2005). Pemantapan Kemampuan Mengajar (PKM).Jakarta: Universitas
Terbuka.
Winataputra,
Udin. S. (2004). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Makasih materinya lengkap kak
BalasHapusMaterinya bagus kak
BalasHapusMakasih materinya kakak
BalasHapusSangat bermanfaat kakak, semoga bisa kita terapkan di lapangan nantinya��
BalasHapusSangat bermanfaat kakak, semoga bisa kita terapkan di lapangan nantinya
BalasHapussangat bermanfaat
BalasHapusBermanfaat sekali
BalasHapusMaterinya bagus dan membantu sekali 👍
BalasHapus