Tugas 7
A. Pengertian Prinsip
Dalam Manajemen Kelas
Prinsip-prinsip
manajemen kelas mengandung pengertian yaitu, proses pengelolaan kelas untuk
menciptakan suasana dan kondisi kelas yang memungkinkan siswa dapat belajar
secara efektif (Rachman, 1999:11).
Pengelolaan kelas juga
dapat diartikan sebagai segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana
belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa
untuk belajar dengan baik dan sesuai dengan kemampuan (Ahmad, 1996:).
Jadi dapat disimpulkan
bahwa prinsip dasar pengelolaan kelas adalah pegangan atau acuan yang dimiliki
pokok dasar berfikir atau bertindak bagi seorang pendidik dalam usaha
menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal serta mengembalikan
kondisinya bila terjadi gangguan dalam proses pembelajaran. Tujuan pengelolaan
kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga
tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien.
B. Permasalahan dalam
manajemen kelas
Ada dua jenis masalah
pengelolaan kelas, yaitu yang bersifat perorangan atau individual dan yang
bersifat kelompok. Disadari bahwa masalah perorangan atau individual dan
masalah kelompok seringkali menyatu dan amat sukar dipisahkan yang satu dari
yang lain. Namun demikian, pembedaan antara kedua jenis masalah itu akan
bermanfaat, terutama apabila guru ingin mengenali dan menangani permasalahan
yang ada dalam kelas yang menjadi tanggung jawabnya. Masalah pengelolaan kelas
tersebut, yaitu :
1) Masalah Individual
Penggolongan masalah
individual ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku manusia itu
mengarah pada pencapaian suatu tujuan.Setiap individu memiliki kebutuhan dasar
untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika seorang individu gagal
mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga maka dia akan bertingkah
laku menyimpang. Ada empat jenis penyimpangan tingkah laku, yaitu tingkah laku
menarik perhatian orang lain,mencari kekuasaan, menuntut balas dan
memperlihatkan ketidakmampuan.Keempat tingkah laku ini diurutkan makin lama
makin berat. Misalnya, seorang anak yang gagal menarik perhatian orang lain
boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
a) Attention getting
behaviors (pola perilaku mencari perhatian) : Seorang siswa yang gagal menemukan
kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana hubungan sosial yang saling
menerima biasanya (secara aktif ataupun pasif) bertingkah laku mencari
perhatian orang lain. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang aktif
dapat dijumpai pada anak-anak yang suka pamer, melawak(memperolok), membuat
onar, memperlihatkan kenakalan, terus menerus bertanya; singkatnya, tukang
rewel. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang pasif dapat dijumpai pada
anak-anak yang malas atau anak-anak yang terus meminta bantuan orang lain.
b) Powerseeking behaviors (pola perilaku
menunjukkan kekuatan/kekuasaan) : Tingkah laku mencari kekuasaan sama dengan
perhatian yang destruktif, tetapi lebih mendalam. Pencari kekuasaan yang aktif
suka mendekat, berbohong, menampilkan adanya pertentangan pendapat, tidak mau
melakukan yang diperintahkan orang lain dan menunjukkan sikap tidak patuh
secara terbuka. Pencari kekuasaan yang pasif tampak pada anak-anak yang amat
menonjolkan kemalasannya sehingga tidak melakukan apa-apa sama sekali.
Anak-anak ini amat pelupa, keras kepala, dan secara pasif memperlihatkan
ketidakpatuhan.
c) Revenge seeking
behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam) : Siswa yang menuntut balas
mengalami frustasi yang amat dalam dan tidak menyadari bahwa dia sebenarnya
mencari sukses dengan jalan menyakiti orang lain. Keganasan, penyerangan secara
fisik (mencakar, menggigit, menendang) terhadap sesama siswa, petugas atau
pengusaha, ataupun terhadap binatang sering dilakukan anak-anak ini. Anak-anak
seperti ini akan merasa sakit kalau dikalahkan, dan mereka bukan pemain-pemain
yang baik (misalnya dalam pertandingan). Anak-anak yang suka menuntut balas ini
biasanya lebih suka bertindak secara aktif daripada pasif.Anak-anak penuntut
balas yang aktif sering dikenal sebagai anak-anak yang ganas dan kejam, sedang
yang pasif dikenal sebagai anak-anak pencemberut dan tidak patuh (suka
menetang).
d) Helplessness (peragaan
ketidakmampuan) : Siswa yang memperlihatkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa
amat tidak mampu berusaha mencari sesuatu yang dikehendakinya (yaitu rasa
memiliki) yang bersikap menyerah terhadap tantangan yang menghadangnya; bahkan
siswa ini menganggap bahwa yang ada dihadapannya hanyalah kegagalan yang terus
menerus.Perasaan tanpa harapan dan tidak tertolong lagi ini biasanya diikuti
dengan tingkah laku mengundurkan atau memencilkan diri.Sikap yang
memperlihatkan ketidakmampuan ini selalu berbentuk pasif.
2) Masalah Kelompok
Ada tujuh masalah
kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:
a) Kurangnya kekompakan :
Kurangnya kekompakan kelompok ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan
(konflik) diantara para anggota kelompok.Konflik antara siswa-siswa dari
kelompok yang berjenis kelamin atau bersuku berbeda termasuk kedalam kategori
kekurang-kompakan ini. Dapat dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak
kompak akan beriklim tidak sehat yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan
dan kekerasan. Siswa-siswa di kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan
kelompok kelasnya sehingga mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang
mereka duduki itu. Para siswa tidak saling bantu membantu.
b) Kesulitan mengikuti
peraturan kelompok : Jika suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak
mematuhi aturan-aturan kelas yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua
muncul, yaitu kekurang-mampuan mengikuti peraturan kelompok.Contoh-contoh
masalah ini ialah berisik; bertingkah laku mengganggu padahal pada waktu itu
semua siswa diminta tenang; berbicara keras-keras atau mengganggu kawan padahal
waktu itu semua siswa diminta tenang bekerja di tempat duduknya masing-masing;
dorong-mendorong atau menyela waktu antri di kafetaria dan lain-lain.
c) Reaksi negatif
terhadap sesama anggota kelompok : Reaksi negatif terhadap anggota kelompok
terjadi apabila ekspresi yang bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota
kelompok yang tidak diterima oleh kelompok itu, anggota kelompok yang
menyimpang dari aturan kelompok atau anggota kelompok yang menghambat kegiatan
kelompok.Anggota kelompok dianggap “menyimpang” ini kemudian “dipaksa” oleh
kelompok itu untuk mengikuti kemauan kelompok.
d) Penerimaan kelas
(kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang : Penerimaan kelompok (kelas) atas
tingkah laku yang menyimpang terjadi apabila kelompok itu mendorong timbulnya
dan mendukung anggota kelompok yang bertingkah laku menyimpang dari norma-norma
sosial pada umumnya. Contoh yang amat umum ialah perbuatan memperolok-olokan,
misalnya membuat gambar-gambar yang “lucu” tentang guru.Jika hal ini terjadi
maka masalah kelompok dan masalah perorangan telah berkembang dan masalah
kelompok kelihatannya lebih perlu mendapat perhatian.
e) Kegiatan anggota atau
kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan, berhenti
melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru kegiatan orang (anggota) lainnya
saja.Masalah kelompok anak timbul dari kelompok itu mudah terganggu dalam
kelancaran kegiatannya.Dalam hal ini kelompok itu mereaksi secara berlebihan
terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak berarti atau bahkan memanfaatkan hal-hal
kecil untuk mengganggu kelancaran kegiatan kelompok itu.Contoh yang sering
terjadi ialah para siswa menolak untuk melakukan karena mereka beranggapan guru
tidak adil. Jika hal ini terjadi, maka suasana diwarnai oleh ketidaktentuan dan
kekhawatiran.
f) Kurangnya semangat,
tidak mau bekerja, dan tingkah laku agresif atau protes. Masalah kelompok yang
paling rumit ialah apabila kelompok itu melakukan protes dan tidak mau
melakukan kegiatan, baik hal itu dinyatakan secara terbuka maupun
terselubung.Permintaan penjelasan yang terus menerus tentang sesuatu tugas,
kehilangan pensil, lupa mengerjakan tugas rumah atau tugas itu tertinggal di
rumah, tidak dapat mengerjakan tugas karena gangguan keadaan tertentu, dan
lain-lain merupakan contoh-contoh protes atau keengganan bekerja.Pada umumnya
protes dan keengganan seperti itu disampaikan secara terselubung dan
penyampaian secara terbuka biasanya jarang terjadi.
g) Ketidakmampuan
menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan. Ketidakmampuan menyesuaikan
diri terhadap lingkungan terjadi apabila kelompok (kelas) mereaksi secara tidak
wajar terhadap peraturan baru atau perubahan peraturan, pengertian keanggotaan
kelompok, perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan
jadwal kegiatan, pergantian guru dan lain-lain.Apabila hal itu terjadi
sebenarnya para siswa (anggota kelompok) sedang mereaksi terhadap suatu
ketegangan tertentu; mereka menganggap perubahan yang terjadi itu sebagai
ancaman terhadap keutuhan kelompok.Contoh yang paling sering terjadi ialah
tingkah laku yang tidak sedap pada siswa terhadap guru pengganti, padahal
biasanya kelas itu adalah kelas yang baik.
1. Undang-Undang No. 20
Tahun 2003
Undang-Undang No. 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) Pasal 51 ayat 1
menyatakan bahwa “ Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan
dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan
minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah atau madrasah. “
2. Peraturan Pemerintah
No. 19 Tahun 2005
PP No. 19 Tahun 2005
tentang Standar Pendidikan Nasional Pasal 49 ayat 1 mengemukakan
bahwa “ Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan
kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.”
3. Permendiknas No. 19 Tahun
2007
Permendiknas No. 19
Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan memuat secara terperinci
tentang :
a) Perencanaan Program
b) Pelaksanaan Rencana
c) Pengawasan dan
Evaluasi
d) Kepemimpinan Sekolah
atau Madrasah
e) Sistem Informasi
Manajemen
f) Penilaian Khusus
DAFTAR PUSTAKA
Mudasir. 2011. Manajemen Kelas. Yogyakarta: Penerbit
Zanafa Publishing.o Sobry. 2008. Manajemen Pendidikan Langkah Praktis
Mewujudkan Lembaga Pendidikan yang Unggul.Jakarta: PT Bumi
Aksara.
Suyono dan Hariyanto. 2017. Belajar dan Pembelajaran. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya
Sangat bermanfaat kak
BalasHapusSangat membantu sekali kak
BalasHapusSangat membatun sekali kak
BalasHapusTerimakasih. Materinya bermanfaat sekali
BalasHapusSangat bermanfaat kakak, semoga bisa kita terapkan di lapangan nantinya🙏
BalasHapusBermanfaat sekali
BalasHapusMaterinya bermanfaat kak
BalasHapussangat bermanfaat sekali kak
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusMaterinya bagus dan membantu sekali 👍
BalasHapus